ketika dedaunan runtuh dari langit-langit yang menggantungnya,
kemudian membangunkan peri angin dan turunlah hujan.
Keras sentuhnya hingga petir tak kuasa tuk diam.
Disanalah amarahKu berada,
diujung tanduk-tanduk suara yang menggelegar itu.
Namun hanya sekemudian menjadi kalut saat teduh sinar mentari mengintip dibalik awan.
Hujan pun pergi tanpa maksud dan pelangi menggantikan senyumnya.
Membuatku malu..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar