aaaaaarrggghhhh. !
sekali lagi nyaris ku sobek-sobek kepingan langit yang mendung itu.
membuatku benci mengutukki pandangan suramnya.
AKU TAK SUKA!
jangan pandang aku dangan tatap egoMu itu.
tak PERLU!
hanya mengurai tetes kepedihan di pelupuk mata.
kemudian jatuh membasahi pipi yang masih mengharap sedikit senyum sang bibir.
cukup SUDAH!
urat-urat ini tak mampu lagi menahan kejangan disetiap aliran darah yg melewatinya.
bagai banjir bandang di nadiku lalu meledak seketika bagai bom waktu.
AKU MUAK!
lepas semua hujan yg sejak tadi kau tahan!
jadikan badai sore ini sebadai hatiku.
biar angin mengguncangnya dan aku laruT dalam kemirisan desah menghela nafasku.
ah.. sudahlah,
tak ada gunanya memarahi langit yg tak kan bisa mengerti teriakkanku sedari tadi.
bahkan menggapainya pun AKU tak MAMPU..
Minggu, 15 Januari 2012
Cermin
cermin,
lihatlah bayangan suram disudut sana..
kemudian lukis sama bentuknya.
Apa yang kau tatap akan serupa.
Seperti dua sisi berhadapan.
Itulah dia yg terkadang angkuh tuk memandangmu.
Hanya menggores sedikit simpul dipipi.
Mampukah engkau membalas senyum pahitnya?
lihatlah bayangan suram disudut sana..
kemudian lukis sama bentuknya.
Apa yang kau tatap akan serupa.
Seperti dua sisi berhadapan.
Itulah dia yg terkadang angkuh tuk memandangmu.
Hanya menggores sedikit simpul dipipi.
Mampukah engkau membalas senyum pahitnya?
Gejolak Kata
Fuaaahhh..!
biar ku hujam atap-atap langit dengan tatapku!
mendengus kencang nafas amarahku!
kan ku siram tinta merah membara,
membentuk halilintar kejam yg pernah ada.
Lalu membentuk hujan duri menusuk bumi.
sudah q bilang jangan bangUnkan dewa matahari
kala kau tak sanggup menggapai tenangnya!
Dia tak seMudah yg kau kira tUk dicari senyumnya,
ketika terLanjur menukik tajam batang alisnya,
dia marah.!
biar ku hujam atap-atap langit dengan tatapku!
mendengus kencang nafas amarahku!
kan ku siram tinta merah membara,
membentuk halilintar kejam yg pernah ada.
Lalu membentuk hujan duri menusuk bumi.
sudah q bilang jangan bangUnkan dewa matahari
kala kau tak sanggup menggapai tenangnya!
Dia tak seMudah yg kau kira tUk dicari senyumnya,
ketika terLanjur menukik tajam batang alisnya,
dia marah.!
Malu
ketika dedaunan runtuh dari langit-langit yang menggantungnya,
kemudian membangunkan peri angin dan turunlah hujan.
Keras sentuhnya hingga petir tak kuasa tuk diam.
Disanalah amarahKu berada,
diujung tanduk-tanduk suara yang menggelegar itu.
Namun hanya sekemudian menjadi kalut saat teduh sinar mentari mengintip dibalik awan.
Hujan pun pergi tanpa maksud dan pelangi menggantikan senyumnya.
Membuatku malu..
kemudian membangunkan peri angin dan turunlah hujan.
Keras sentuhnya hingga petir tak kuasa tuk diam.
Disanalah amarahKu berada,
diujung tanduk-tanduk suara yang menggelegar itu.
Namun hanya sekemudian menjadi kalut saat teduh sinar mentari mengintip dibalik awan.
Hujan pun pergi tanpa maksud dan pelangi menggantikan senyumnya.
Membuatku malu..
SHMILY (See How Much I Love You)
dan , Sebentuk cahaya ini Q genggam mati,
melalui mawar-mawar yg Q semat dalam hatimu.
Tak perku takuT, duriNya tak berlaku untukmU,
kemudian menjaDikanmu kuat kala mentari tak berSinar lagi,
meninggalkan gelap dimatamu.
Tenang, hanya sekejap.
Mawar itu kan menyala-nyala menuntun jiwamu bahagia.
Meski tak beraga, namun selamanya di jiwa.
#SHMILY (Muhammad Persada)
melalui mawar-mawar yg Q semat dalam hatimu.
Tak perku takuT, duriNya tak berlaku untukmU,
kemudian menjaDikanmu kuat kala mentari tak berSinar lagi,
meninggalkan gelap dimatamu.
Tenang, hanya sekejap.
Mawar itu kan menyala-nyala menuntun jiwamu bahagia.
Meski tak beraga, namun selamanya di jiwa.
#SHMILY (Muhammad Persada)
Langganan:
Komentar (Atom)