Selasa, 14 Mei 2013

Kado Tak Bernilai



tinta ini ku gores pelan dengan sayatan sesak ditiap lengkungannya
bukan karena terkikis gesekan kertas ujung lancip tulisan tanganku
bukan juga karena lampu-lampu terang enggan membuka lorong gelap diotakku

hanya saja..

tiada kata yg mampu singgah semasa meski hanya sekedar mampir meneguk kopi
meski tuk menyapa tirai dipagi hari juga sawah-sawah hijau yang memadi
semua ini hanya berputar diotak ku berkelut dengan emosi jiwa yg tak karu..

meski begitu, aku tahu hari ini si surya kan lebih cerah dari biasanya
menyungging senyum dimuka jendela menyambut dirimu pamit dari gerbang mimpi
membawamu pergi ke masa lain dari dunia sama yang kau perankan sembilan belas tahun lalu..

nah,
bangunlah.. hari ini peran itu kembali padamu
kala dimana ibumu berbahagia dengan tangis pertamamu juga
kala dimana semua kakakmu bersedia berbagi kasih sayang orangtuamu
inilah hari ulang tahunmu..

kini.. diakhir tintaku ini, aku baru tahu tentang apa yang akan ku tulis
ialah tentang seorang pria yang bukan lagi anak lelaki
tentang pemuda yang siap menggenggam masa depan tepat diujung batang hidungnya
dan tentang seorang sejati yang ku kenal dipertemuan itu.

selamat ulang tahun zull kurniawan akbar
tiada kata yang lebih baik dari kebaikan itu sendiri
tiada doa yang lebih indah dari memanjatkan keberkahan ditiap hembusan nafasmu
jadilah kebanggaan dari setiap tinta yang terpakai selama hidupmu
hingga kelak kau menjadi pelita dari semua harapan yang terpikul dipundakmu

amin..

dan disinilah tintaku berakhir .

Senin, 26 November 2012

Siluet Kesedihan

Ingin ku menutup mata bunda..
membentuk siluet indah dalam gelap pejamku
aku tak ingin bergelut dengan panasnya mentari
yang tak adil menghujam segala tundukku

kemana semua cerita indah yang dulu ku genggam
kini tak tercium sama sekali sedap aromanya
sempat ku putar lagi lensa yang merekam kebahagian kala itu
namun kelembutan tak berpihak kepadaku..

tahukah angin tlah menjauhiku..
meninggalkan sesak dalam keterhimpitan jerit sang surya
enggan nya kembali hanya untuk sekedar mengisi hari
penuh sensasi dalam linangan air mata yg menetes ku diatas puisi..

Minggu, 15 Januari 2012

Menghujam Langit

aaaaaarrggghhhh. !
sekali lagi nyaris ku sobek-sobek kepingan langit yang mendung itu.
membuatku benci mengutukki pandangan suramnya.

AKU TAK SUKA!
jangan pandang aku dangan tatap egoMu itu.

tak PERLU!
hanya mengurai tetes kepedihan di pelupuk mata.
kemudian jatuh membasahi pipi yang masih mengharap sedikit senyum sang bibir.

cukup SUDAH!
urat-urat ini tak mampu lagi menahan kejangan disetiap aliran darah yg melewatinya.
bagai banjir bandang di nadiku lalu meledak seketika bagai bom waktu.

AKU MUAK!
lepas semua hujan yg sejak tadi kau tahan!
jadikan badai sore ini sebadai hatiku.
biar angin mengguncangnya dan aku laruT dalam kemirisan desah menghela nafasku.

ah.. sudahlah,
tak ada gunanya memarahi langit yg tak kan bisa mengerti teriakkanku sedari tadi.
bahkan menggapainya pun AKU tak MAMPU..

Cermin

cermin,
lihatlah bayangan suram disudut sana..
kemudian lukis sama bentuknya.
Apa yang kau tatap akan serupa.
Seperti dua sisi berhadapan.
Itulah dia yg terkadang angkuh tuk memandangmu.
Hanya menggores sedikit simpul dipipi.
Mampukah engkau membalas senyum pahitnya?

Gejolak Kata

Fuaaahhh..!
biar ku hujam atap-atap langit dengan tatapku!
mendengus kencang nafas amarahku!
kan ku siram tinta merah membara,
membentuk halilintar kejam yg pernah ada.
Lalu membentuk hujan duri menusuk bumi.

sudah q bilang jangan bangUnkan dewa matahari
kala kau tak sanggup menggapai tenangnya!
Dia tak seMudah yg kau kira tUk dicari senyumnya,
ketika terLanjur menukik tajam batang alisnya,
dia marah.!

Malu

ketika dedaunan runtuh dari langit-langit yang menggantungnya,
kemudian membangunkan peri angin dan turunlah hujan.
Keras sentuhnya hingga petir tak kuasa tuk diam.
Disanalah amarahKu berada,
diujung tanduk-tanduk suara yang menggelegar itu.
Namun hanya sekemudian menjadi kalut saat teduh sinar mentari mengintip dibalik awan.
Hujan pun pergi tanpa maksud dan pelangi menggantikan senyumnya.
Membuatku malu..

SHMILY (See How Much I Love You)

dan , Sebentuk cahaya ini Q genggam mati,
melalui mawar-mawar yg Q semat dalam hatimu.
Tak perku takuT, duriNya tak berlaku untukmU,
kemudian menjaDikanmu kuat kala mentari tak berSinar lagi,
meninggalkan gelap dimatamu.

Tenang, hanya sekejap.
Mawar itu kan menyala-nyala menuntun jiwamu bahagia.
Meski tak beraga, namun selamanya di jiwa.

#SHMILY (Muhammad Persada)